Strategi Pertahankan Investasi di Tengah Wabah Virus Corona

Home / Ekonomi / Strategi Pertahankan Investasi di Tengah Wabah Virus Corona
Strategi Pertahankan Investasi di Tengah Wabah Virus Corona Ilustrasi investasi. (Foto: Liputan6.com)
Fokus Berita

TIMESMAGETAN, SURABAYA – Wabah virus corona akhir Januari di Wuhan China berdampak pada ekonomi dunia. Salah satu yang terdampak adalah pasar saham di Indonesia. Pasar saham di Indonesia terkoreksi cukup dengan IHSG anjlok -5,71%. Sementara indeks obligasi pemerintah Indonesia (BINDO) menguat  sebesar +2,17% 

“Munculnya virus corona membawa kekhawatiran investor pasar keuangan yang menyebabkan pasar saham global dan  ivestasi anjlok dan berlanjut di bulan petama Februari,” ucap Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth, Ivan Jaya.

Kemunculan virus corona membuat investasi di Indonesia anjlok. Meskipun beberapa pakar ekonomi mengatakan bahwa saat ini terlalu dini untuk menghitung dampak yang ditimbulkan akibat penyebaran virus corona. 

Namun beberapa strategi perlu dilakukan agar tidak menimbulkan kerugian yang cukup besar pada negara terdampak.

Ivan Jaya selaku ucap Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth mengatakan bahwa beberapa strategi perlu dilakukan di bulan Februari. 

"Strategi yang perlu dilakukan antara lain adalah menambah portofolio reksa dana saham bagi investor yang memiliki profil risiko agresif," kata Ivan Jaya, Senin (17/2/2020). 

Kedua, lanjutnya, adalah menambahkan instrument pendapatan tetap yaitu obligasi dalam portofolio bagi investor yang memiliki profiol risiko moderat. 

Obligasi sendiri merupakan surat utang berisi janji dari penerbit surat utang untuk membayar sejumlah imbalan berupa bunga dalam suatu periode tertentu. Obligasi bisa dopakai untuk melunasi pokok utang yang telah ditentukan kepada pembeli surat utang tersebut.

"Dalam hal ini, investor akan diuntungkan. Pertama, investor akan mendapatkan kupon berkala yang lebih tinggi dari deposito. Kedua memperoleh capital gain, jika obligasi diperdagangkan di pasar sekunder," jelasnya. 

Ketiga, risiko yang ditawarkan lebih rendah dibandingkan dengan instrument saham. 

Harga obligasi di pasar saham terpantau memiliki volalitas rendah dibandingkan dengan instrumen saham. 

Obligasi yang diterbitkan pemerintah para pelaku pasar sepakat bahwa instrumen tersebut merupakan instrument bebas resiko atau risk free. (*) 

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com